Bab I | Novel RENA | Karya Fatatun Qonita


"Rena." Suara teriakan Ibuku mengganggu dari tidurku, aku segera bangun. Kaki menjulur menapaki ubin sambil mengucek mata untuk menjelaskan penglihatan. Lalu bergegas membereskan kasurku.

"Rena." Ibu berteriak lagi, itu benar-benar sangat menganggu. Menyebalkan mendapatkan teriakannya di pagi hari.

"Ya, aku akan turun," ucapku dengan suara keras. 

Aku melihat diriku di cermin terlebih dahulu, memeriksa wajahku yang begitu Kumal dan rambut berantakan. Dengan cepat aku turun ke bawah menuju dapur karena kamarku berada di lantai atas. 

Mataku mendapati Ibuku sedang menyiapkan makanan di atas meja makan. Itu terlihat enak

"Duduk di sini," perintahnya sambil menunjuk kursi dekat meja.

Aku berjalan menghampirinya dan duduk di kursi.

"Kamu menikmati tidurmu sampai tuli kalo kamu kuliah hari ini!" Nadanya mengejek, membuatku sedikit kesal

Seharusnya aku menyalakan alarm agar ibu tidak mengoceh yang membuat telingaku panas. 

"Setelah makan dan mandi kau langsung siap-siap, sebentar lagi ada tetangga baru yang akan menjemputmu."

Aku mengkerutkan kening. Aku baru tahu jika ada tetangga baru.

Ibuku mengerti dengan kerutanku, "kamu harus mulai terbiasa dari sekarang dengan dia yang setiap hari akan mengantarmu kuliah. Dia baru pindah ke sini kemarin. Bersikap sopan lah." katanya.

Oh, tidak. Menyebalkan berangkat bersama dengan orang yang nyaris tidak aku kenal sama sekali.

"Apa? Tidak, tidak akan. Aku bisa naik taksi, Bu." Aku merengek.

Aku benar-benar kesal mengapa ibuku tidak memberitahuku dulu, itu sangat mendadak dan aku sangat tidak setuju.

"Tidak ada penolakan, menurutlah atau ibu tidak akan memberimu uang," ancamnya. Keterlaluan!

Aku mengangguk terpaksa. 

Dia tidak tahu bagaimana perasaanku yang selalu harus menuruti perintahnya tanpa tahu aku kesal dan sedikit lelah. Dia selalu seperti itu, menuntut banyak dan memberikan sedikit perhatian. Benar-benar cuek. 

"Bagus!" 

Ibuku berlalu pergi sedangkan aku mulai menikmati makanan yang dia hidangkan tadi.

Selepas makan aku langsung mengambil handuk dan mandi lalu bersiap-siap memakai sweatshirt berwarna merah dan rok front button midi skirt cokelat.

Terdengar suara ibu di luar rumah yang sedang mengobrol dengan seseorang, aku berjalan keluar dan ada seorang pria di sebelah ibuku. Pria itu menoleh ke arahku, kita bertatapan sebentar karena mataku langsung beralih menatap ibu.

Ibuku tersenyum

"Akhirnya kau sudah siap, sekarang kalian berangkat sebelum terlambat."

Aku menatap bingung ibuku

"Oh ya ibu lupa, Rena ini Jack tetangga baru yang ibu katakan tadi." 

Aku sedikit terkejut bahwa pria itu adalah tetanggaku. Wajahnya cukup tampan, sungguh 

Dia mengulurkan tangannya, "aku Jack, senang berkenalan denganmu."

Tanganku membalas uluran tangannya sambil tersenyum aku menjawab, "Rena. Ya, aku juga."

Dan kita saling melepaskan, ibuku memberiku uang saku dan aku menerimanya.

"Tante harap kau bisa jemput Rena setiap hari berangkat sekolah, jaga Rena. Tante percaya padamu, titip ya," ucap ibuku, terpancar senyuman ramah di wajahnya. 

Aku melotot kepada Ibuku tapi ibu mengabaikan. 

Jika begini terus aku akan malu serta merasa merepotkannya. Mengapa ibuku harus menyuruhnya menjemputku padahal Jack baru di sini. Apakah itu sopan?

Jack tertawa, "siap tante."

"Kalau begitu kita berangkat," Jack bersuara lagi dan dia melirikku

Aku hanya tersenyum tipis

Ibu mengangguk, "hati-hati di jalan."

Setelah itu ibu masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu dengan tidak memberiku lambaian tangan? Apakah itu sulit baginya? Oh ya dia memang seperti itu! Hahaha.

Perhatianku tertuju pada Jack. Seketika suasana menjadi canggung.

"Aku membawa motor kemari." 

Oh baguslah akhirnya dia yang memulai.

Kami menuju ke depan pagar rumah

Sedikit mengejutkan bahwa dia membawa motor ninja. Aku akui tubuhnya sangat cocok untuk mengendarai motor itu. Tidak bisa dibayangkan saat aku bonceng dan melihat tubuh tegapnya dari belakang. Orang-orang pasti akan mengira kita pacaran

Dia naik ke motornya, dan matanya menatap ke arahku sambil mengisyaratkan untuk aku menaiki motornya. Aku mengangguk, mulai menaiki motornya dengan tidak sengaja tanganku menekan bahunya agar aku tidak jatuh.

"Maaf." Merasa tidak enak karena perlakuanku tadi.

"It's oke, aku mengerti." Dia tersenyum lagi. Helm sudah membungkus kepalanya.

Kemudian dia langsung menyalakan motornya, dan kami meluncur menuju sekolah.

...

Kampus benar-benar ramai ketika kami mulai memasuki area parkir.

Aku turun dari motor Jack saat Jack sudah memarkirkan motornya.

Jack melepas helm dan turun dari motor. Setelahnya dia menatapku, bola mataku bergerak kemana-mana. sangat canggung dengan aku yang telah bonceng dengannya untuk pertama kali.

Tapi tunggu? Kupikir kami tidak kuliah di tempat yang sama. Mengejutkan.

"Jadi kau kuliah di sini juga?" Aku tidak tahan untuk bertanya.

"Ya, aku masuk di kampus ini sekitar seminggu yang lalu." 

"Sungguh? Semoga betah di sini." 

Aku hampir tidak percaya, karena aku tidak pernah melihatnya sama sekali di sini. 

"Terimakasih." 

"Jurusan apa yang kau ambil?"

"Kedokteran."

"Wow, itu sangat keren. Beri aku alasan?"

"Aku hanya ingin mencoba memasukinya. Sepertinya aku bisa menjadi dokter." Jack terkekeh. Aku ikut bergabung.

"Tentu. Tapi mungkin itu sangat sulit."

Dia mengangkat kedua alisnya, "Benar. Dan bagaimana denganmu?"

"Aku mengambil jurusan sastra."

"Wah, sangat keren. Bagaimana itu?"

"Menyenangkan. Aku suka sastra, kau harus mencoba masuk."

"Aku tidak. Ayo masuk!" 

Aku mengangguk setuju.

Kami berjalan masuk ke kelas masing-masing. Aku memberikan lambaian pada Jack saat aku akan memasuki kelas. 

Profesor belum datang. Membuatku lega. Dan baru sebagian orang yang masuk. 

Seperti biasa aku duduk di belakang di barisan ke tiga. 

Dering notifikasi terdengar dari dalam tasku, aku mengambilnya. 

Terpampang pesan dari Yuna, itu sahabatku.

Hi! Apakah profesor sudah masuk?"

Belum. Kenapa kau belum datang?"

Oh baguslah, aku akan berangkat! See u :> 

Aku memutar mata. Ini adalah kebiasaan sehari-harinya ketika akan ke kampus, dia selalu mengirimiku pesan sebelum berangkat. Yang mana membuatnya selalu telat.

Aku dan Yuna bersahabat sejak kecil, dia adalah satu-satunya sahabat yang aku punya. Segalanya bagiku. Kami terkadang selalu bersama, tapi sekarang sedikit merenggang karena dia sudah punya kekasih. Tentu saja, seseorang pasti akan berubah ketika sudah memiliki seseorang yang dia cintai. Meski aku sedikit kecewa tapi itu adalah kebahagiaannya, aku tidak berhak menuntut. Jadi ketika dia ada masalah dia bisa datang padaku kapan saja, aku selalu menerimanya dengan senang hati. 

Kami kuliah dan mengambil jurusan yang sama. Dia juga sangat suka sastra, aku senang kami sefrekuensi. Dan bisa membahas segala hal tentang sastra. Menyenangkan!

Aku mematikan hp dan menaruhnya kembali ke dalam tas ketika dosen sudah mulai masuk.

Dia memakai kacamata, baju formal dan sepatu pantofel. Dan berjalan ke tempatnya duduk. 

Semua orang merapihkan tempat duduk, suasana menjadi sunyi.

"Selamat pagi," sapa profesor. 

"Selamat pagi, pak." Kami serempak menjawab.

"Bagaimana hari kalian?"

"Baik."

"Bagus. Jadi sekarang kita akan membahas tentang novel hujan karya Tere Liye. Apakah kalian sudah membacanya?" Profesor berdiri di tengah-tengah, di depan kami.

"Sudah."

Aku senang mendengarnya, novel itu adalah bagian dari favoritku. Hampir semua karya Tere Liye aku suka. Aku membacanya ketika di perpustakaan. 

"Apa pendapatmu tentangnya?" 

Seorang lelaki berambut kribo mengangkat tangan.

"Ya Peter?" 

"Aku sedikit percaya tentang masa depan di dalamnya. Yang mana diceritakan bahwa teknologi akan bertambah berkembang di seluruh dunia. Benar-benar keren jika kita mencoba kendaraan yang mengambang tanpa roda dan ada mesin otomatis di dalamnya. Dan juga aku sangat suka dengan gadis kribo di dalam cerita itu." Lelaki tersebut terkekeh di akhir kalimatnya. 

Kami semua tertawa. 

"Benar. Aku yakin pasti itu akan terjadi, teknologi sudah mengambil alih hampir semuanya. Jadi, kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Jangan sampai lengah di dalamnya, kau akan terjerat dan mungkin tidak bisa bebas. Kau tahu? Sebagian anak muda hancur karena teknologi." 

Kami semua mengangguk mengerti. Memang benar apa yang dikatakan profesor. Itu adalah intinya. 

"Dan bagaimana tentang kisah romance di dalamnya? Apa pendapat kalian?" 

"Miss Rena apa pendapatmu" Profesor melirikku.

Aku sedikit terlonjak. 

"Aku tidak terlalu ingat, tapi mereka adalah pasangan yang sempurna. Tentang Lail dan Esok. Bertemu karena sebuah insiden dan berpisah karena suatu alasan. Singkatnya Lail menghilangkan ingatannya tentang Esok karena kesalahpahaman tentang seorang gadis yang dekat dengan Esok, dia merasa kacau. Lail hanya membutuhkan kepastian dari Esok, perasaannya tentu saja tumbuh seiring bertambahnya usia. Tapi Esok sudah terlambat, Lail sudah menghilangkan ingatannya. Jadi ini adalah akhir yang sedih, aku tidak tahan membacanya." Aku menjelaskan, tidak secara inci.

"Itu kesalahan Lail, kenapa dia tidak jujur saja pada Esok tentang perasaannya? Dia hanya merepotkan Esok." Suara lelaki menyahut dari belakangku. Dia memakai tindik di alisnya. Semua orang menatapnya termasuk aku. Dan kami saling berpandangan. 

"Tidak. Itu salah Esok, dia memberi harapan pada Lail. Dan tidak mengabari Lail ketika dia pergi untuk mengerjakan proyek sebuah luar angkasa? Bukankah seharusnya dia mengabari Lail??" Aku membela.

"Esok pasti sangat sibuk sampai dia lupa untuk mengabarinya. Kau tidak mengerti. Lail merepotkan. Perempuan memang merepotkan." 

"Fine. Dan lelaki selalu seenaknya memberi harapan! Setidaknya dia harus menyadari perasaan perempuan saat berdekatan." 

Aku benar-benar kesal tentang itu, dia hanya mengambil sebagian dari cerita itu untuk menyalahkan peran Lail. Dia yang tidak mengerti! Semua mata menatap kami dengan terkejut. Ya jadi kami harus berdebat di waktu seperti ini. 

Lelaki itu mendengkus kesal.

"Oke baiklah, kita akhiri sampai di sini. Sampai bertemu Rabu depan." Profesor mengambil bukunya dan keluar dari kelas.


(Bersambung)


Postingan Populer