Cerpen Mela Sri Ayuni -Terbang dengan Satu Sayap

Cerpen Mela Sri Ayuni 


Februari lalu, tepatnya dua tahun silam. Pagi itu, sinar marahari menyusup kedalam jendela kamar tanpa permisi, membuat bola mataku yang sayu ini membelalakkan mata dengan telanjang. Karena mau tidak mau aku harus bangun untuk memulai hari baru dengan kesibukan dan orang-orang baru. Ya, orang baru. Semangat aksi pagi ini berjalan dengan mulus, tidak ada reranting sedikit pun yang berani menghalangi langkah kecilku.

Kaki ini perlahan menjajaki anak tangga yang menjulang tinggi. Dengan membawa beberapa buku ditangan kanan yang aku genggam didadaku. Perlahan kamu datang dari arah yang berlawanan, sehingga ini menjadi awal.pertemuan kita. Mataku begitu jelas melihat rupamu, dari ujung rambut hingga ujung kakimu tampak begitu sempurna, nyaris tidak ada celah untuk dihujat. Kamu begitu tinggi untuk aku yang minimalis, warna kulitmu sama sepertiku kuning langsat, dadamu tampak bidang nan gagah, yang membuatku merasa terlindungi ketika didekatmu. dan. Aku suka dengan gaya rambutmu yang tidak begitu rapih.

Melihat dirimu yang berdiri tegap didepanku, membuat aku terdiam kosong. Jantungku kali ini tidak seperti biasanya, berdetak lebih kencang dan rak beraturan. Sepertinya semenjak hari itu, aku sudah menjatuhkan hati ini kepadamu. Sejatuh-jatuhnya. Apakah ini yang dinamakan cinta pada detik pertama?. Padahal sebenarnya aku tidak mudah jatuh cinta kepada orang lain. Bahkan sangat sulit. Semenjak ayah memperlalukan ibu dengan seperti sampah didepan mataku. Semenjak kekerasan yang terjadi pada ibu, hatiku sangant merasa teriris dan menimbulkan sesikit bercak darah dalam hati yang begitu menetes tanpa henti. Jangankan obat, penawar luka hati ini saja hingga saat ini tidak ada yang menyembuhkan. Semua laki-laki itu Bangsat!. Ini pandanganku selama ini terhadap semua laki-laki yang ada dibumi.

Tetapi, mengapa pandangan hidup yang selama ini aku pertahankan harus terpadamkan oleh kehadiranmu? Atau sebenarnya kau bukan manusia? Apakah ini saatnya untuk mengikhlaskan semua yang telah berlalu? Dan membuka hati baru untuk yang baru. Tetapi bagaimana dengan janjiku? yang tidak akan pernah jatuh cinta kepada siapapun. Sungguh, ini membuat perasaan aku menjadi tak menentu. Seperti kompas yang kehilangan mata angin.

Kali ini, aku duduk dibarisan kedua. Dan kamu, berdiri didepan sambil menerangkan. Aku menyimak semua perkaan yang keluar dari mulut mu, suaramu begitu sopan ketika masuk kedalam telinga. Tidak befitu keras, namun terdengar satu ruangan. Aku nyaman dengan suaramu yang begitu candu. Tapi sangat disayangkan, mengapa kalimat yang keluar dari mulutmu sangat mengguncangkan hati dan otak ku. Kamu telah menikah. Rasanya aku tidak sanggup untuk patah hati yang kedua kalinya. Tapi sebentar, bukan kah kamu bukan sesiapaku. Lantas untuk apa aku patah hati? Bahkan kita saja baru mengenal lima belas menit yang lalu. Tuhan. Tolongalah, aku ingin hati dan otak ku bekerja sama dengan baik. Jangan menjadi bodoh untuk hal receh seperti ini.

Hari sudah mulai petang, sudah saatnya aku pulang. Hari ini hati dan pikiranku sangat merasa terkuras, sangat melelahkan. Nanti besok kita lanjutkan.

***

Merebahkan tubuh sambil menelentangkan kedua tangan diatas kasur, untuk mengusir lelah. Mataku menatap langit-langit kamar. Tanganku meraba area kasur sambil.mencari benda pipih. Ya, handphone. Ini saatnya aku bermutualan ke sosial media untuk menjadi stalker, mencari tahu apa kesibukanmu. Dan yang paling penting, untuk mengetahui sosok perempuan yang menjadi istrimu. Aku tersenyum simpul ketika melihat beberapa foto unggahanmu pada masa kuliah. Aku yakin, diantara banyak teman perempuanmu yang ada dalam foto ini. Pasti ada saja yang berharap ingin menjadi kekasihmu. Karena kamu begitu tampan, sehingga siapapun yang melihatmu akan jatuh cinta tanpa syarat.

Ahh, Tidak. Mengapa aku harus terus memikirkan mu. Ini rasanya sangat tidak pantas, bahkan tidak wajar. Jika aku harus mencintai laki-laki milik perempuan lain, terlebih kamu guruku sendiri. Bagaimana ini Tuhan? Jika rasa ini terus ada dalam hatiku, percuma aku belajar selama ini. Kalau akhirnya aku akan menghancurkan rumah tanggamu. Aku akan gagal menjadi perempuan. Dan tidak ada bedanya aku dengan ayah, yang melukai hati perempuan.

Kamis, dijam satu sampai dua tiga puluh sore. Semenjak mengenalmu, inilah waktu yang paling aku tunggu. Walaupun pertemuan kita hanya sepekan sekali dan dalam waktu yang singkat, tak mengapa. Setidaknya aku bisa melihat wajah tampanmu, dengan rambut hitam lebat yang tidak rapi. Kamu itu sudah tampan, jadi tolong jangan sesekali merapikan rambutmu didepan perempuan, kecuali aku. Karena itu akan menjadi nilai tambah ketampananmu dan membuat perempuan lain jatuh cinta. Jadi, tolong lakukan itu hanya didepan aku saja.

***

Februari tahun kedua. Genap dua belas bulan kita salung mengenal, eh. Tidak. Maksudku, aku yang mengenalmu. Kamu tidak. Walau sebenarnya, kita sama-sama sibuk. Aku sibuk memikirkanmu setiap detik, sedangkan kamu sibuk dengan segudang pekerjaanmu yang tak kadang kamu juga mengambil waktu akhir pekan untuk bekerja. Memang dasar kamu manusia robot. Tidak mengenal rasa lelah sama sekali, padahal semua yang kamu miliki sudah cukup untukmu dan bahkan orang lain. Kamu jauh berbeda dengan jutaan jantan yang aku kenal selama bernafas dibumi. Kamu pekerja keras namun kamu tetap sederhana. Dan lagi-lagi aku jatuh cinta untuk yang sejuta kalinya dalam sehari.

Gedung merpati putih ini menjadi saksi bisu pertemuan awal kita. Ya, aku dan kamu. Yang tak kunjung menjadi kita. Biasanya, setiap kali aku jatuh cinta paling lama hanya bertahan di dua belas bulan, dan itu pun sudah ditambah dengan bonus move on. Tetapi mengapa kali ini sangat berbeda, aku bisa mencintaimu setiap hari. Bahkan, aku tidak bisa menjamin kalau besok aku tidak mencintaimu. Adakah cara? agar kamu tahu bahwa aku mencintaimu, memikirkanmu dan memujamu dalam malamku yang hening.

***

Malam minggu, setiap orang dimuka bumi ini pasti menunggu malam minggu. Entah itu yang sudah berkeluarga atau masih lajang. Mereka akan menghabiskan waktunya dengan orang terkasih. Untuk sekadar menonton, makan, atau keluar menikmati germerlapnya lampu kota. Seperti biasanya, malam mingguku kali ini tidak sendiri, karena melainkan ditemani rindu yang menggebu. Namun disetiap malam hening, aku selalu berdo’a meminta kepada Tuhan agar mengutukmu. Semoga kamu yang aku rindukan saat ini justru lebih merindukanku tanpa dihadiahi temu.

Jika rindu diciptakan bukan karena jarak, melainkan kamu telah ada dalam hatiku. Maka, sejak kapan haadirmu mendarah daging dalam tubuh serta berakar tanpa buah dalam hatiku? Sepertinya aku sudah tidak waras, karena mencintaimu tanpa kamu tahu. Jika aku ayah, sudah sedari dulu aku mengungkapkan isi hati yang sebenarnya tanpa rasa ragu. Tapi disini aku masih bisa sedikit menggunakan akal sehat untuk berpikir dan hati nurani untuk merasa. Agar tidak ada hati perempuan manapun yang terluka karena keegoisanku, jadi biarkan aku saja yang menanggung rasa fitrah ini sendiri. Cukup aku dan rindu saja yang tahu, kamu tak perlu. Aku tidak akan mengganggumu, dan membiarkan kamu fokus dengan segudang kesibukanmu. Tak perlu pedulikan aku, aku baik-baik saja.

Terkadang aku ingin marah kepada Tuhan, karena sudah menciptakan kamu layaknya seperti air. Hanya bisa dilihat tapi tidak bisa digenggam. Kali ini Tuhan dan Alam semesta tidak berpihak kepadaku, Tuhan dengan skenarionya menghadirkan kamu dalam hidupku. Tuhan bolehkah aku marah? Jika dibolehkan, aku ingin berkata kasar. Karena dengan mudahnya Tuhan menghukum rindu kepadaku. Sedangkan dia, berlaga sok polos yang tidak tahu apa-apa seperti bayi baru lahir. Rindu ini hanya bisa dirasakan oleh segenap hatiku, yang tek kadang bola mataku yang indah rela menjatuhkan kristal bening tanpa kamu tahu sedikit pun. Tuhan menghadirkan rindu kepadaku sedangkan kepadamu tidak. Akh, aku ini bukan boneka hitam putih yang tidak punya hati.

***

September tahun kedua. Semoga bulan ini tidak menjadi bulan yang sadtember untuk aku dan rindu.

Cepat lambatnya detik dalam menit, menit dalam jam. Ini akan terus berjalan ke arah masa depan entah itu suram atau gemilang. Aku tidak tahu semuanya tampak abu-abu, tapi aku berharap yang masih tampak abu-abu akan menjadi putih suci. Dengan kemampuan yang tersisa, aku harus mampu mengalihkan perasaanku terhadap lain. Berhenti sejenak memikirkanmu, atau bahkan. Melupakanmu. Memang tidak mudah namun harus tetap dicoba. Kalau gagal coba lagi. Melanjutkan aktivitasku dan mencari kesibukan lain agar lebih produktif ( aku sebut untuk menyamarkanmu agar lebih kekinian), karena dua tahun terakhir hidupku kosong.

Terbang dengan satu sayap yang patah memang tidak akan secepat terbang pada umumnya. Tapi tak mengapa walau aku tak bisa terbang dengan seharusnya, setidaknya aku bisa terbang semampuku. Asalkan dengan terus terbang, tanpa berbalik ke belakang untuk mengemis satu sayapku yang utuh kepadamu. Kewarasanku saat ini harus digunakan sebaik mungkin. Agar kelak aku bisa munjukan kepadamu dengan bangga bahwa aku bisa terbang dengan satu sayap.

***

Sore ini, aku menikmati secangkir teh hangat dikedai favoritku. Sudah lama aku tidak menjejaki tempat ini, biasanya hampir setiap akhir pekan. Hingga pelayan pun tak usah menanyakan lagi apa pesananku, langsung dibuatkan. Ditemani tugas deadline jemariku dengan lincah mengetik keyboard dan menatap layar monitor.

Dikedai ini mereka asik membicarakanmu, berbicara seolah kamu milik mereka. Sebenarnya, aku tidak begitu peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Tampak tidak penting. Aku melanjutkan untuk mengetik.

Tetapi, tak sengaja. Sekilas aku mendengar obrolan mereka kalau kamu belum menikah. Sontak tanganku secara otomatis menjauh dari keyboard hingga secangkir teh kesukaanku terjatuh. Hatiku berdegup lebih kencang, nafasku tak beraturan. Sepertinya aku butuh oksigen untuk menstabilkan detak jantungku. Setelah aku membayar teh yang diminum sekali, aku berlari kencang dari kedai itu. Dan menabrak seseorang berjalan sendiri tanpa ditemani perempuan yang ada dalam obrolan mereka, yaitu, kamu. Buku-buku nyang aku genggam terjatuh dan terbuka dibagian tengah. Kamu mengambil buku itu yang bertuliskan “Aku Mencintaimu dalam Hening Sejuta Kali dalam Sehari”.

Mataku menatap tajam matamu dengan penuh isyarat yang dipendam selama dua tahun terakhir. Merebut buku itu dalam genggamanmu dan berlari sekencang mungkin untuk meninggalkanmu. Diluar ekspektasiku, kepalan tanganmu yang besar meraih tanganku. Raihan tanganmu mampu menghentikan langkahku dan membalikan badan ke arahmu, mata kita saling berpandangan dengan bugil. Tak lama, aku menghempaskan genggaman tanganmu yang beberapa detik lalu bersentuhan tanpa alas. Sebenarnya, aku enggan melepaskan genggaman tanganmu karena ini moment yang paling aku tunggu semenjak kala itu.

Sepersekian detik, sebelum air mataku tumpah dihadapanmu. Aku beralih jauh darimu, bahkan kalau bisa, aku ingin jarak kita sejuta kilo meter. Agar kamu tidak melihat aku menumpahkan air mata, karena aku tidak mau kamu melihat aku dalam keadaan lemah. Aku ingin dilihat manusia hanya dalam keadaan tegar dan gembira. Walau sebenarnya, setiap hari aku harus memakai topeng hello kity untuk mengelabui manusia, padahal dibalik.topeng ini aku hanyalah tetesan cairan dari es balok yang mencair, dan tidak akan beku sebelum ada yang memasukan kedalam lemari pendingin. Mungkin, jika tidak ada Tuhan sebagai tempat bersandar yang paling utama, aku sudah menjadi bahan bakar utama diupacara ngaben yang abu-abunya dibuang kelaut agar Malaikat kesulitan untuk  menemukanku, dan Tuhan tidak menghukum atas dosa-dosa yang telah aku perbuat. Terutama dosa dalam mencintaimu.

***

Suatu saat jika diijinkan, aku akan membawakanmu karet gelang kecil berwarna hitam. Untuk mengikat rambutmu yang tidak rapi dalam keadaan berdiri. Pasti aku akan berdiri dengan jinjit, dan kamu akan membungkukan tubuh sedikit agar kita sejajar. Dan senyumu hanya akan menjadi miliku, begitu juga sebaliknya. Tak lupa, ada yang mengambil gambar dari arah depan untuk mengabadikan sejarah. Tampak indah bukan?.

Di kamar yang berukuran sepuluh meter ini, banyak menaruh harap. Mau yang terkabul atau tidak. Malam yang diam mengingatkanku pada kejadian dikedai itu, coba aku stalker kembali. Berselancar ke dalam hidupmu melalui sosial media. Beruntungnya, masa sekarang sejadul dulu. Jadi kita dengan mudah menemukan apapun dan siapapun melalui telepon genggam. Menuju beranda linimasa. Sedikit mengerutkan kening, berpikir berlebih karena tak ku sangka kamu tidak mengunggah gambar pernikahanmu. Bukankah, setiap orang yang sudah memiliki kekasih atau pasangan hidup akan mengunggah kemesraan di sosial media? Sebagai ajang pencarian pengakuan terhadap orang lain.

Aku yakin, berarti selama ini kamu menyembunyikan status untuk mengelabuiku. Lantas untuk apa kamu lakukan itu? Apa untungnya bagimu?.

Bisa disimpulkan. Kamu saat ini belum mempunyai kekasih. Ini kesempatan besar, untuk mengembalikan satu sayapku yang patah. Baiklah, aku akan berbenah diri, menyelesaikan semua tugas hidup. Jika telah rampung aku akan kembali.

***

Seperti yang aku ucapkan kemarin, aku akan pergi sejenak untuk memantaskan diri. Menggali semua potensi dalam diri. Mengembangkan keilmuan yang kamu berikan sewaktu dikelas. Hari-hariku saat ini mulai normal, bangun pagj lalu berangkat bekerja hingga larut malam. Kesendirian ini sengaja diciptakan agar aku terbiasa tanpa kehadiranmu. Tampak menikmati hidup, padahal sebenarnya ridak. Hanya terpaksa lalu terbiasa, seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi diantara kita. Aku perlu berpura-pura amnesia masa dalam dalam beberapa saat kedepan.

Malam ini, aku sengaja pulang kerja dengan berjalan kaki. Menikmati disetiap sudut kota, menyaksikan alunan musik, lampu kota yang gemeelap. Dan, beberapa pasang mata sedang beradu kasih ditepi jalan. Aku hanya tersenyum simpul. Besok atau lusa, iya atau tidak. Pada dasarnya aku juga manusia biasa yang kompleks, ingin merasakan indahnya menghabiskan waktu bermalas-malasan denganmu. Aku paham, sabar itu sepahit buah gerenuk atau bahkan lebih mematikan dari sianida. Tapi percayalah Tuhan tidak pernah merajut bulu mata, Tuhan akan selalu menyaksikan para aktornya dalam keadaan duka atau lara. Hingga dari buah itu, Tuhan akan memberikan suspen-suspen  baik dari peran yang telah dilakoni.

Hidup didalam rumah yang cukup menampung hingga sebelas kepala. Namun hanya diisi oleh satu kepala saja. Tidak pernah ada sanak saudara yang menyinggahi tempat rumah ini, semenjak kepergian ibu. Mereka sudah sibuk dengan keluarga dan pekerjaannya masing-masing. Jika aku jahat, sudah sedari dulu aku membawa kekasih dengan bergantian dan bermalam dirumah ini. Tapi aku tidak sebejad itu. Rumah ini menjadi saksi kekerasan, perceraian bahkan kematian ibu. Terlalu pilu jika harus diceritakan semua. Khawatir yang tulis dalam pena bukan tulisan namun tetesan darah yang kental nyaris seperti berwarna.hitam. Perempuan memang ridak diciptakan untuk setegar tulang punggung. Tetapi aku j7ga harus menyesuaikan posisiku saat ini, minimal aku tidak menjadi gila.

Rindu lagi, rindu lagi, rindu lagi. Huft, mengapa kali ini rindu hadir begitu deras dan mendingin ke ulu hati. Bagaimana ini Tuhan? Haruskah aku mengirim.pesan singkat kepadamu dini hari?. Akh, tidak. Aku tidak ingin mengganggumu. Eit, sebentar. Aku ingin melihat Last Seen mu. Aktif. Sedang apa kamu aktif pada dini hari? Sedang Sleep Call, Chating atau mungkin Video.Call? Tetapi dengan siapa? Bukankah kamu tidak memlunyai kekasih?. Aku nerusaha berpikir positif, mungkin kamu sedang mengerjakan pekerjaanmu yang menumpuk, karena aku yakin tidak.ada saru pun perempuan dibumi ini yang kuat terhadap sikapmu. Dingin.

Aku iba terhadap siapapun perempuan yang sedang dekat denganmu, karena perempuan itu tidak akan tahan. Mengingat dalam pikiranmu hanya memikirkan pekerjaan dan pekerjaan saja. Hingga tidak ada waktu untuk meluangkan waktu sedetik pun untuk mengabari. Sesekali aku sempat berpikir, manusia pada umumnya diciptakan dari tanah. Tapi kalau kamu justru diciptakan oleh manusia dari patahan mesin hingga menjadi robot hidup sepertimu. Tak mengapa, justru aku suka dengan perbedaan yang kamu bawa. Kamu benar-benar berbeda dengan makhluk bumi lainnya!

Sekali lagi, dari jutaan betina yang hidup. Mereka tidak akan bertahan semenit pun dekat denganmu. Dan kalau pun harus ada, itu hanya Aku. Cuma Aku.

Karena hanya aku yang bisa memahamimu. Kalem. Tunggu aku sebentar lagi. Semoga kamu selalu dalam sabar menantiku.

***

Pagi, selalu.membawa semangat baru dalam menjalani hidup. Seperti membuka lembaran awal dalam album, lembaran awal ini akan dipenuhi oleh aku dan dia. Kami bertemu dibangku sekolah, sejak itu aku adik kelasnya. Dia adalah kaka perempuanku yang dipertemukan ketika sudah dewasa. Wajah dia begitu anggun nan teduh. Aku nyaman bila didekatnya, seperti memiliki saudari kandung. Namun kami sangat jauh, untungnya hanya dalam jarak. Bukan dalam doa. Dia selalu ada ketika aku dalam keadaan apapun baik suka maupun duka. Dia rela mengorbankan apapun untukku. Hingga aku, tak sungkan untuk menceritakan semua yang terjadi.

Dari pertemuan, dalam rindu hingga terakhir tentang  statusmu yang membohongiku. Aku bercerita seolah kamu miliku kepada dia. Dia menanggapinya dengan perasaan yang terbuka pula, selalu memberikan solusi terbaik semampunya. Dia tiga tahun lebih dewasa dariku, hidup dipanti asuhan. Padahal aku sudah mengajaknya untuk tinggal bersama dirumahku. Namun dia enggan menerima tawaranku. Karena dia merasa memiliki utang budi kepada panti. Maka dari itu dia mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada panti. Sesekali aku sering.mengunjunginya, membawa kue keju kesukaannya.

Aku selalu mencurahkan seluruh isi hatiku tentangmu. Dia baik karena merasa sudah pernah ada dalam posisiku, namun bedanya hidup dia jauh tidak rapi di banding denganku. Dia dilahirkan dari hasil hubungan gelap seorang pelacur yang tidak jelas siapa bapaknya. Hingga kini dia tidak pernah melihat orang tuanya. Karena dulu dia ditemukan di tepi jalan oleh pengurus panti. Tetapi kini kami menjadi saudara.

Pagi ini aku dengan dia sudah membikin janji untuk lari pagi ditaman kota. Lama sekali kami menghabiskan waktu bersama karena belakangan ini aku sibuk. Sibuk menjadi orang lain untuk pantas denganmu. Aku menghentikan langkah diputaran ketiga. Meneguk sejenak air mineral yang aku bawa, sambil mengelap keringat dikening. Sebaiknya aku menunggu dia satu putaran taman lagi. Selepas itu, akan ku paksa dia berhenti. Dia tidak akan marah karena sudah tahu sifatku sedari dulu. Kali ini aku mentraktir bubur ayam kesukaanku, tak lupa tanpa kacang. Dia sudah khatam dengan.gerak-gerikku, kalau aku merajuk pasti ada mau. Aku tertawa malu. Jika sudah dalam duduk berhadapan itu tandanya aku akan mengungkapkan apa yang akh rasa.

Aku menyampaikan perihalmu, saat ini aku sedang menjadi orang lain agar mendapatkan perhatianmu. Aku bercerita tentang kamu, dia ingin bertemu dengan mu. Berjanjilah, suatu saat aku akan mengenalkan dia kepadamu. Dia tampak senang, melihat aku bergairah berbicara banyak tentangmu. Benar kata dia, kalau aku sudah dewasa. Kali ini dia juga bercerita kalau dia sedang dekat dengan seseorang, yang tampaknya serius. Dia juga berjanji akan mempertemukan aku dengan seseorang itu. Kami berdua tersenyum dan berpelukan.

***

Rasanya aku udah mulai jenuh dengan keseharian yang aku jalani, mencoba merubah pola hidup dan bahkan pola pikir agar bisa pantas denganmu. Aku sibuk. Dia menghilang, selepas itu. Sudah kutanyakan kepada pengurus panti, satu pun ridak ada yang tahu. Dia seperti tertelan bumi. Hilang, lenyap tanpa kabar. Padahal aku ingin bercerita, kalau aku sudah siap menemuimu. Dimanapun dia berada semoga dia tetap selalu ada dalam lindungan Tuhan, dan. Satu lagi, semoga seseorang yang sedang dengan dia sudah menikahi. Agar suatu hari nanti kami bertemu, dia sudah berkepala dua satu atau dua.

Hai, lama sekali kita tidak bertegur sapa. Semoga kamu tetap menjadi kamu yang aku kenali semenjak hari itu. Sesuai janjiku dulu, hari ini aku akan memunaikan janjiku untuk menemuimu.  

Sudah ku siapkan dress seujung lutut berwarna biru kesukaanmu. Memakai heels hitam setinggi lima senti. Sengaja mengurai rambut, agar kamu suka. Sebentar, aku melihat unggahan terakhirmu. Kamu sedang ada di kedai itu. Baiklah, aku akan bergegas sekarang.

Dengan wajah full senyum, aku membawakan secangkir kopi hitam kesukaanmu yang aku racik dengan sepenuh cinta. Aku membawa dengan amat perlahan. Pandanganku lurus kedepan, berfokus kepada satu sudut dengan pemandangan keluarga cemara yang bahagia. Satu ayah, dua ibu yang memakai dress biru seujung lutut, tiga anak kecil perempuan yang berumur empat tahun, dan. Satu lagi diperut ibunya. Prang! Aku tak sengaja menjatuhkan kopi kesukaanmu. Maafkan aku. Tubuhku otomatis mengalihkan arah, membelakangi keluarga cemara itu sambil menahan tumpahan tanngis, aku tersedu kecil agar orang lain tidak mengira aku sedang menangis, hanya berdiri sejenak. Bagaimana aku tidak serapuh ini, kalau ayah dalam keluarga cemara itu adalah kamu dan ibu yang sedang hamil itu dia. Bahkan kamu hanya berdiri seperti patung saja setelah mendengar tumpahan kopi itu,dan tidak mengejarku. Kamu Jahat! Sama seperti dia. Tidak ada bedanya. Kalau aku tahu sedari dulu kedai kopi kesukaanku ini milikmu, maka aku tidak sudi menginjakkan kaki suciku ke tempat ini.

Ayah, ibu, kamu dan dia. Benar-benar membunuhku sedetik sekali dalam jam perhari secara matang. Tuhan, boleh aku bertanya? Mengapa Kau hari ini tidak memanggilku sedetik sebelum aku melihatmu.

Serang, 21 September 2022

Postingan Populer